Langsung ke konten utama

Perspektif Pernikahan

 Karena saya adalah tipe yang to the point alias tidak bisa membuat narasi pembukaan jadi langsung saja saya ke pembahasan soal perspektif tentang pernikahan di mata masyarakat umum. Di masa pandemi ini tidak menjadi penghalang bagi siapapun untuk melaksanakan pernikahan, bahkan banyak yang semakin mantap untuk menikah di masa pandemi akibat corona virus ini, ada beberapa perspektif masyarakat yang agak menggelitik di pikiran saya sebagai seorang wanita, sebagai seorang anak, sebagai seorang yang menurut saya baru menginjak usia dewasa di usia 24 tahun ini. Pertama ada yang menikah karena aji mumpung tidak perlu ada resepsi karena bisa menghemat tanpa memikirkan suara sumbang dari para tetangga atau kerabat, kedua ada yang menikah karena memang sudah berhubungan sejak lama jika tidak segera menikah dikhawatirkan justru tidak akan terlaksana sama sekali, ketiga ada yang menikah karena melihat banyak orang yang berbondong-bondong untuk menikah. It's like "aku gak boleh kalah", "ih pengen nikah juga, kayanya bahagia banget" etc

Saya perempuan yang belum menikah, tapi saya banyak melihat dan belajar dari pengalaman orang lain tentang pernikahan. Ini yang menggelitik untuk saya niat orang-orang untuk menikah sungguh unik sampai saya bertanya-tanya apa mereka pernah memikirkan life after marriage?

Dimana yang isinya tidak hanya soal cinta antara dua insan manusia tapi menggabungkan kedua keluarga untuk menjadi sebuah keluarga besar, tanpa ada istilah keluarga istri atau keluarga suami, menjadikan orang tua pasangan juga sebagai orang tua kita. Menerima segala kekurangan pasangan yang mungkin tidak diperlihatkan pada masa pacaran. Bersiap untuk setiap tantangan sosial, tentang menjadi istri yang baik atau suami yang baik bahkan menantu yang baik.

Lalu soal anak, dan finansial. Beberapa orang berpikir untuk menikah karena sudah matang secara usia maupun finansial, tapi apakah berarti mereka siap secara mental? Usia matang tidak menjamin seseorang sudah siap secara mental untuk menikah. Apalagi yang menikah hanya karena nafsu semata, nafsu konteks yang saya bahas disini bukan cuma soal seksual, tapi juga soal minat terhadap rupa, terhadap harta, terhadap tahta, atau bahkan pengakuan.


Misalnya menikah karena pasangannya rupawan, percayalah pernikahan ini tidak akan bertahan sampai kamu bertemu dengan seorang yang lebih rupawan, menikah karena harta juga akan hancur karena harta, menikah karna tahta juga akan hancur karena tahta, menikah karena pengakuan percayalah kamu akan haus dengan pengakuan yang lainnya.

Menikah karena untuk memenuhi kebutuhan seksual, ini yang lebih parah, demi apapun anda benar-benar belum siap menikah jika hanya ini yang menjadikan alasan anda untuk menikah. Karena kedepannya akan ada banyak halangan bagi anda untuk memenuhi kebutuhan seksual, apalagi saat kehamilan, kelahiran bahkan pasca kelahiran. Maka dari itu banyak kasus perselingkuhan terjadi pada proses ini karena masih banyak orang-orang yang menikah dengan niat untuk memenuhi kebutuhan seksual semata.

Kampanye lebih baik menikah muda daripada zina juga salah satu yang menggelitik saya juga. Kenapa? Saya tau niatnya baik, saya juga paham yang dimaksud disini usia mudanya bukan 17 tahun dan tidak mungkin mengkampanyekan pernikahan tanpa kesiapan secara finansial. Tapi apa masyarakat awam paham soal ini? Banyak sekali orang-orang yang salah mengartikan kampanye ini dan menikah muda tanpa sebuah kesiapan, iya menghindari zina tapi secara tidak langsung merenggut masa remaja yang seharusnya sedang membangun kreativitasnya, melakukan banyak inovasi, menemukan jati dirinya sebagai orang dewasa dan cita-citanya. Ketika sudah menikah sangat tidak mungkin tidak ada kegiatan seksual, di usia dini biasanya hormon yang tidak stabil mengakibatkan seseorang punya minat lebih terhadap kegiatan seksual, dan terjadilah kehamilan, jika sudah hamil dan melahirkan. Apa seorang wanita mampu fokus pada cita-citanya? Pasti ada yang menjawab "bisa kok" maybe yes, tapi saya yakin 80% tidak.

Dan soal anak, ketika seseorang memutuskan untuk memiliki anak, secara rasional mereka pasti sudah mempersiapkan banyak hal untuk calon anaknya kelak, tapi bagaimana yang bahkan hanya berpikir untuk biaya pernikahan, bahkan tidak terbayangkan biaya kehidupan setelah pernikahan? Runyam.

Iya runyam bukan main, apalagi jika penghasilannya selama ini hanya cukup untuk dirinya sendiri dan tiba-tiba harus menghidupi istri ditambah anak? Silahkan dibayangkan. Jika dirasa secara finansial belum cukup mampu untuk membiayai kehidupan yang baru sebaiknya buatlah perencanaan tentang anak. Karena ketika kita memutuskan untuk memiliki anak berarti kita sudah siap atas tanggung jawab besar, bukan hanya membiayai makan, tapi juga kesehatan, sekolah, dan masa depannya. Mendidiknya menjadi SDM yang baik bagi kehidupan masyarakat dan negara.


Jangan sampai kita menikah demi kebahagiaan kita sendiri, tapi setelah menikah kita justru menyusahkan negara, maksudnya disini, ketika anak sakit tidak mampu membayar biayanya ujung-ujungnya pemerintah, ketika anak sekolah tidak mampu membayar biaya sekolah, ujung-ujungnya pemerintah.

Secara kasarnya, "kamu yang menikah kok pemerintah yang repot."


Soal anak, kenapa saya bilang kita harus bisa mendidik anak agar menjadi SDM yang baik bagi masyarakat dan negara? Apa hubungannya? Jelas ada. Pertama anak kita pasti akan hidup bermasyarakat jika dia memiliki perilaku yang buruk maka bukan hanya masyarakat yang dirugikan tapi juga kita sebagai orang tua, kenapa negara juga ikut rugi? Jika anak kita tidak kita didik menjadi SDM yang baik, dia akan sulit mencari pekerjaan dan akan menjadi beban bagi negara, apalagi jika sampai menjadi pelaku kejahatan, yang rugi bukan cuma negara tapi juga kita sebagai orang tua. Maka dari itu saya benar-benar tergelitik dengan beberapa perspektif di atas. Entah hanya saya yang terlalu over thinking soal pernikahan, yang jelas menikah tidak sesederhana itu.

Beberapa hari yang lalu ada sebuah berita tentang regulasi soal pernikahan orang-orang dengan penghasilan rendah yang dibahas oleh anggota DPR RI bapak Dedy Mulyadi, saya sudah yakin respon masyarakat akan sangat keras karena terkesan terhina, tapi dari sudut pandang saya justru pak Dedy ini punya niat baik.

Mungkin disini maksud beliau adalah orang-orang harus menyesuaikan dengan penghasilan jika ingin mengadakan pesta pernikahan, jangan terlalu memaksakan sampai akhirnya setelah menikah justru memiliki hutang dimana-mana yang pada akhirnya akan memunculkan kemiskinan baru.

Gini aja sih baiknya, ketika orang-orang mau menikah diadakan edukasi pra nikah, dimana membahas soal kesiapan finansial untuk menikah dan setelah menikah, tentang domisili juga, diharapkan pasangan mampu membiayai domisili sekurang-kurangnya rumah sewa. Diedukasi juga soal perencanaan tentang keturunan, betapa pentingnya memikirkan rencana di setiap masing-masing anak, orang tua wajib sudah mengalokasikan dana untuk kesehatan maupun pendidikan. Ini juga salah satu cara untuk mengurangi kemiskinan, kemampuan untuk memberikan edukasi di rumah tentang kehidupan sosial, karena ada begitu banyak anak yang punya perilaku kurang baik akibat lingkungan sekitar/pergaulan. Ini juga poin penting untuk sang anak di masa depan, memutuskan menikah bukan cuma soal menyempurnakan ibadah dalam agama tapi juga selaras dengan kepentingan kehidupan sosial, dan negara.

Jangan sampai kita menikah, tapi menghasilkan SDM yang buruk bagi masyarakat maupun negara. Yang rugi tidak cuma mereka tapi juga kita sendiri, dikatakan anak adalah investasi ya memang benar, karna anak juga interpretasi dari diri orang tuanya.

https://twitter.com/kompascom/status/1292472926646620162?s=19

Link di atas adalah link berita yang saya katakan.


Terimakasih kepada yang sudah mau membaca celotehan saya, mohon maaf bila ada opini saya yang kurang berkenan, saya akan sangat berterimakasih jika ditegur secara baik-baik dan diberikan tanggapan tentang tulisan saya🙏


Komentar